Selembar Uang 5000 Rupiah dan Sebuah Impian Ke Tanah Suci Mekkah

Selembar Uang 5000 Rupiah dan Sebuah Impian Ke Tanah Suci Mekkah

Setiap umat muslim, pasti menginginkan dirinya berkunjung ke tanah suci, Mekkah. Menunaikan salah satu rukun Islam tersebut merupakan suatu kesempatan langka dan mungkin hanya dimiliki oleh segelintir orang-orang berpunya. Bagi orang yang, bahkan, untuk makan setiap hari saja harus berjuang keras, maka impian untuk bisa mencium tanah suci Mekkah adalah suatu hal yang mustahil tercapai.

Sama halnya dengan kebanyakan orang muslim tersebut, saya juga memiliki impian untuk bisa pergi ke tanah suci, mencium Hajar Aswad dan juga merasakan nuansa khusyuk saat orang-orang sholat di Masjid Nabawi. Ingin, ingin sekali. Sering saya berpikir, apakah mungkin saya bisa ke tempat itu? Apakah keinginan tersebut hanya akan menjadi bunga-bunga tidur saya? Mungkin hanya keajaiban yang bisa mewujudkannya. Namun saya tidak mempercayai keberuntungan saya, karena saya bukan orang seberuntung itu. Berulang kali saya pernah mengikuti kuis atau undian berhadiah, tapi hasilnya nihil. Keberuntungan atau nasib baik bukanlah sesuatu yang digariskan dalam jalan hidup saya.

tanah suci, ayo menabung

Berkali-kali saya berusaha menepis impian saya tersebut, namun berkali-kali pula harapan selalu menganggu tidur saya. Saya memang bukan orang yang memiliki tingkat keberuntungan yang tinggi, tapi saya adalah orang yang percaya pada usaha dan tekad. Saya percaya bahwa sesulit apapun apabila kita berusaha, maka hal tersebut akan tercapai. Api harapan semakin berkobar di hati saya ketika saya membaca sebuah berita yang menceritakan tentang seorang kakek yang bisa berangkat ke tanah suci Mekkah dengan cara menabung selama 60 tahun. Sebut saja nama kakek tersebut adalah Ambari, seorang petani dan juga pejuang pada jaman penjajahan. Kakek Ambari menabung dengan cara menyisihkan uang hasil panennya. Ia menabung koin hasil tabungannya dalam sebuah kaleng biskuit. Tak disangka, dalam kurun waktu 60 tahun koin-koin tersebut telah menjadi segunung tabungan yang bisa mengantarnya ke tanah suci. Bukan hanya Kakek Ambari, Inspirasi lain datang dari Ibu Kami Alukariman Warsidi, seorang penjual rujak yang harus menyekolahkan 4 orang anaknya. Jaman sekarang, menghidupi diri sendiri saja merupakan hal yang tidak mudah. Maka akan terdengar luar biasa ketika ada seorang ibu yang bisa menyekolahkan 4 anaknya dan dapat menunaikan ibadah haji dengan cara menabung selama 15 tahun. Ibu Warsidi, warga kabupaten Gresik Jawa Timur itu berhasil pergi ke tanah suci di usianya yang ke 55 tahun dengan cara berjualan rujak dari pukul 7 pagi hingga 12 malam.

Nah, seorang tukang rujak saja bisa menunaikan ibadah haji, kenapa saya tidak? Seorang kakek-kakek bisa pergi haji walaupun harus menunggu selama 60 tahun, kenapa saya tidak? Selain cerita kakek Ambari dan Ibu Warsidi, sebenarnya ada banyak kisah inspiratif lain yang menjadi bukti bahwa keinginan kuat dan usaha dapat menimbulkan keajaiban. Bahwa dengan menabung, seseorang yang tak berpunya atau berpenghasilan kecil tetap bisa mewujudkan impiannya walaupun itu memerlukan uang yang banyak.

Belajar dari dua kisah inspiratif tersebut, ada 4 (empat) hal yang menjadi kunci keberhasilan mereka memenuhi impian dalam hidup mereka, yaitu memiliki keinginan kuat, usaha, kesabaran dan menabung. 4 (empat) hal tersebut mampu memunculkan keajaiban, membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mewujudkan impian menjadi kenyataan walaupun awalnya hanya angan-angan. Untuk dapat mewujudkan sesuatu awalnya seseorang harus memiliki keinginan. Keinginan bukan hanya sekedar keinginan, tapi keinginan yang kuat. Suatu keinginan akan segera lenyap apabila ia menemui kesulitan dalam proses pencapaiannya, namun keinginan yang kuat dapat menepis hambatan-hambatan yang muncul ditengah perjalanan dalam rangka mewujudkan keinginan tersebut. Selain keinginan, seseorang juga butuh usaha. Dalam hal mewujudkan keinginan ke Tanah Suci ini saya melakukan usaha dengan bekerja. Menjadi seorang pekerja di sebuah perusahaan pembuatan kosmetik di Indonesia. Setiap hari saya bekerja dengan harapan setiap bulan saya akan mendapatkan gaji (upah), dan dari sebagian upah tersebut akan saya sisihkan untuk tabungan saya.

Menabung itu bukan hal yang sulit, tapi juga bukan suatu hal yang mudah. Sudah menjadi fitrah manusia untuk ingin memiliki apa yang mereka inginkan (saat ini). Menabung merupakan cara untuk mewujudkan keinginan pada masa yang akan datang, tidak dapat ditentukan waktunya dan dapat membuat frustasi karena membuat kita harus menahan keinginan membeli sesuatu walaupun kita punya uang. Banyak orang yang sudah memiliki tekad dan usaha tapi gagal dalam proses menabung karena kegiatan ini membutuhkan kesabaran. Pada dasarnya setiap orang ingin segala sesuatu yang serba instan, cepat. Mereka merasa lelah dengan sebuah kesabaran dan menekuni suatu aktivitas yang sama berulang-ulang. Sebab itu proses menabung untuk mewujudkan impian sering gagal ditengah jalan. Karena itu, selain 3 (tiga) hal di atas, sebaiknya kita mengikutsertakan kesabaran dalam proses mewujudkan impian tersebut. Bayangkan, selama 60 tahun seorang kakek Ambari bisa konsisiten mengisi pundi-pundi uangnya, sekoin demi sekoin, se-rupiah demi se-rupiah. Bagaimana kalau kakek Ambari tidak memiliki kesabaran dalam mengumpulkan koin-koinnya dan menyerah di tengah jalan? Dan bagaimana pula nasib Ibu Warsidi apabila ia merasa lelah dalam proses mewujudkan niatnya untuk pergi ke tanah suci? Semua itu butuh proses, ingatlah semua akan indah pada waktunya.

 

5000 rupiah itu bisa dibelikan apa ya? Untuk sebagian orang mungkin nilai selembar uang 5000 itu tidak ada apa-apanya. Bagi sebagian orang juga mungkin 5000 itu cukup untuk sekali makan atau membeli kudapan. Kalau bagi saya, 5000 itu bisa membeli satu gelas teh manis, membeli nasi di kantin atau membeli satu macam sayur di warung. Dari Senin sampai Jumat saya banyak menghabiskan waktu di kantor. Ketika waktu makan siang tiba, karena tidak membawa bekal dari rumah biasanya saya dan teman-teman akan menuju tempat makan (warung) favorit di tempat kita bekerja. Untuk sekali makan biasanya saya menghabiskan uang antara 20.000-25.000 rupiah (tergantung dari lauk dan jenis makanan yang saya makan). Saya tahu itu termasuk jumlah yang banyak untuk ukuran sekali makan. Tapi ya mau bagaimana lagi. Setiap siang perut saya selalu berbunyi sebagai tanda bahwa ia meminta haknya untuk diisi makanan. Suatu hari saya berpikir, kenapa saya tidak membawa saja nasi dari rumah. Untuk lauk memang terkadang orang tua saya tidak sempat memasakkan makanan karena saya berangkat pagi-pagi sekali, namun untuk satu piring nasi rasanya saya masih bisa mengambil dari rice cooker (sisa nasi tadi malam). Lumayankan kalau saya bisa menghemat 5000 untuk setiap kali makan?

Kalau saya hitung-hitung, apabila kita menyisihkan uang 5000 per hari, maka dalam sebulan saya bisa mengumpulkan uang 150.000. Dan kalau dikalikan setahun, maka 5000 itu bisa menjadi 1.800.000. Bayangkan apabila saya terus mengumpulkan uang tersebut sampai 10 atau 15 tahun? Dalam waktu kurang dari 15 tahun saya sudah bisa mengantongi tiket umrah. Apabila tahun tersebut diperpanjang menjadi 30 atau 40 tahun, maka bukan tidak mungkin saya bisa menunaikan ibadah haji. Aamiin.

Menabung itu memang tidak harus dalam jumlah besar. Orang yang ingin menabung tidak perlu menunggu pendapatannya banyak terlebih dahulu baru kemudian memikirkan akan menabung. Bagi orang berpendapatan kecil atau sedikit menabung bisa dimulai dari sekarang, saat ini dan detik ini. Bulatkan saja tekad kalau dalam setiap hari saya harus menyisihkan uang sekian rupiah untuk…. (bisa diisi sendiri).  Sifat dari menabung itu mengikuti semboyan, “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”, jadi tanpa terasa tabungan kita yang mungkin hanya beberapa ribu rupiah suatu saat akan menjadi jutaan, puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah. Hal terpenting adalah niat yang kuat, usaha dan kesabaran. Pada intinya dengan hanya menyisihkan 1000, 2000, 5000 atau 10.000 rupiah setiap harinya, suatu saat yakinlah bahwa kamu/saya/kita bisa mewujudkan apa yang kita impiankan, termasuk pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

Ketika niat, usaha dan kesabaran  sudah ada lalu apakah itu sudah cukup? Ada satu hal penting yang tidak boleh terlewat, yaitu sarana untuk menabung. Kalau menabung kita harus punya tempat atau wadah bukan? Tidak mungkin saya menaruh uang saya di dompet atau tas saja karena bisa-bisa niat saya luntur dan malah membelanjakannya untuk hal yang tidak perlu. Bagaimana dengan celengan? Sebuah wadah tertutup dengan berbagai bentuk dan ukuran. Mau bentuk ayam, kodok, bebek atau sebuah celengan berbentuk robot pun bisa kita temui di pasaran. Tapi apakah itu aman? Kalau pengalaman saya yang dulu pernah menabung di celengan, sering kali saya khilaf ketika keadaan sedang mendesak. Dengan mudahnya saya mencongkel atau mengorek-ngorek celengan tersebut. Belum lagi ada risiko uang tersebut hilang diambil oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Ketika uang celengan tersebut hilang, maka lenyaplah sudah impian dan keinginan kita. Karena itu pilihan saya jatuh kepada lembaga keuangan bernama Bank, sebuah lembaga keuangan yang memiliki fungsi sebagai penyalur dan penghimpun dana dari masyarakat, salah satu kegiatannya adalah sebagai tempat orang-orang untuk menyimpan uangnya melalui sebuah produk bernama tabungan.

Ada banyak kriteria yang dilakukan orang ketika memilih akan menabungkan uangnya di bank apa, ada yang tergiur dengan promo yang sedang ditawarkan, ada yang memilih tingkat bunga bank yang diberikan, ada yang juga memilih usia bank tersebut. Kalau saya, memilih bank sebagai partner menabung saya itu cukup simple, saya hanya melihat apakah bank tersebut sudah menjadi anggota LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) atau belum? Kalau bank tersebut sudah tercatat sebagai anggota LPS, maka amanlah uang saya di sana. Saya tidak perlu khawatir apabila suatu saat ada kejadian yang tidak mengenakkan, misal bank tersebut dilikuidasi. Pasalnya, ada lembaga yang menjamin simpanan saya di bank tersebut, yaitu LPS.

Jadi, apabila kita sudah memiliki keinginan tertentu yang sifatnya membutuhkan uang yang banyak, maka menabunglah. Impian itu mungkin tidak akan terwujud saat ini, tapi nanti pasti terwujud. Dengan adanya usaha dan kesabaran maka proses tersebut akan terasa lebih mudah. Memiliki partner Bank terpercaya yang sudah dijamin oleh LPS juga bisa membuat kekhawatiran kita sirna. Kadang mungkin kita berpikir, apakah aman menitipkan uang kita pada pihak ketiga (seperti bank)? Bagaimana kalau bank tersebut tutup? Atau bagaimana kalau ada oknum yang membawa kabur uang milik kita? Kita bisa tenang karena apabila bank tersebut sudah dijamin oleh LPS, maka LPS yang akan menanggung atau mengganti uang yang ada pada bank tersebut. Jadi, semuanya Aman.

Untuk mengetahui apakah bank yang kita lirik sudah menjadi anggota LPS atau belum, kita bisa langsung mengeceknya di web LPS. Dari halaman utama kita bisa lihat ada kolom bertuliskan bank peserta penjaminan, klik pada kolom tersebut, lalu akan muncul halaman pencarian dimana kita bisa langsung mengetik nama bank yang kita tuju, lalu tekan “Cari Bank”. Setelah itu apabila bank tersebut memang sudah terdaftar sebagai bank peserta penjaminan maka akan muncul nama bank dan nomer kepesertaan dari bank tersebut.

Saat ini sayapun sudah mempercayakan tabungan saya pada salah satu bank di Indonesia. Bank yang bisa saya percaya untuk menyimpan tabungan dan impian saya. Walaupun hanya menyisihkan uang makan saya 5000 rupiah perhari, suatu saat, saya pasti bisa menginjakkan kaki ke tanah suci Mekkah.

Bagaimana? sudah bisa percaya dengan bank dan LPS? siap mewujudkan mimpi? #AyoMenabung!

Leave a Reply